Hukum Menonton Film dalam Islam yang Wajib Diketahui

Banyak yang menanyakan bagaimana hukumnya menonton film bagi umat islam mengingat hal tersebut kini menjadi sesuatu yang biasa yang dilakukan oleh hampir semua orang terutama di daerah perkotaan atau metropolitan. Seringkali kita menjumpai bioskop yang ramai dan penuh sesak, serta tiket pembelian filmnya rela diantri oleh banyak orang hingga kadang menunggu dalam waktu lama hanya demi mendapatkan tiket tersebut.ads

Menonton film dilakukan bersama dengan banyak orang dalam satu tempat, entah itu laki laki atau perempuan, walaupun memiliki batas antar kursi sesuai nomor yang dimiliki, tetap saja di dalamnya laki laki dan perempuan menjadi satu dan jika kebetulan nomor yang dimilikinya berdekatan dengan lawan jenis maka tetap harus menerima dan menjalani dan hal tersebut tidak sesuai dalam syariat pada ayat tentang pergaulan dalam islam.

Bagaimanakah islam memandang mengenai hal tersebut? baiklah, agar memberikan pemahaman yang nyata dan ilmu yang jelas, yuk simak artikel yang penuli bahas kali ini mengenai hukum menonton film dalam islam. Tentunya semuanya penulis jelaskan berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadist yang terkait.

Hukum Menonton Film Dalam Islam

Dalam dunia modern yang serba canggih ini, di dunia menurut islam yang memang sebuah kemungkinan yang sulit jika kita tidak menonton televisi atau menonton film. Dari sana, informasi bisa didapat dan dapat mengetahui serta mengalami sendiri kemajuan jaman di bidang teknologi yang layak untuk kita ketahui karena segala ilmu tentu ada manfaat dan keberkahannya, termasuk diciptakannya film, tentu di dalamnya menyimpan kebaikan jika dijalankan dan digunakan untuk kebaikan sesuai syariat islam dan tidak mendekat pada pelanggaran norma norma.

Hukum menonton film dalam islam ialah tidak memiliki ketetapan khusus, yakni berdasarkan isi dan niat film yang ditonton tersebut. sebagaimana kita mengetahui tentu tetap ada film yang mengajarkan kebaikan dan memberi pengalaman atau motivasi, atau memberi manfaat ilmu dalam pandangan islam. Untuk memahaminya lebih lanjut, simak berbagai sumber syariat berikut yang menguatkannya

1. Isi dari Film yang Ditonton

Islam sebagai agama yang telah sempurna dan lengkap dan telah memiliki dasar hukum islam tentu saja mengatur hal ini dengan sedemikian rupa. Secara jelas Islam telah mewajibkan kepada kaum mukmin laki-laki dan kaum mukmin perempuan untuk menjaga pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Syara’. Allah swt Berfirman, yang artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; … Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padany,” (TQS. Al-Nur [24]: 30-31).

Kisah Wonder yang Menguras Air Mata

family

Julia Roberts. Owen Wilson, dan Jacob Tremblay. Tiga nama yang dipampang besar-besar dalam poster resmi Wonder, sebuah drama keluarga keluaran Lionsgate. Tak ada keterangan lainnya di poster berwarna biru itu, kecuali sebaris kalimat: “Bersiaplah untuk bertemu Auggie Pullman.” Juga “berdasarkan buku laris The New York Times,” dan tanggal tayang film: 17 November. Di sana berdiri seorang anak kecil menghadap ke kanan, dengan helm astronot. Sekilas tampak biasa saja, kecuali siluet mata, pipi, dan hidungnya yang tampak dari balik helm. Dengan keterangan sederhana itu, Wonder kelihatan percaya diri sekali dapat menarik minat penonton hanya dengan tiga nama tersebut. Ketiga orang itu memang nama besar. Julia Roberts dikenal sebagai aktor drama kawakan, menarik perhatian di sejumlah filmnya: Runaway Bride, Eat Pray Love, August: Osage County, The Normal Heart, dan salah satu film ikonik 1990-an: Pretty Woman. Owen Wilson juga nama besar di genre komedi Hollywood. Meski juga membintangi genre lain, termasuk aksi, Wilson dalam kariernya selalu konsisten dengan karakter kocak, termasuk dalam film Shanghai Noon bersama Jackie Chan, atau I Spy bersama Eddie Murphy. Sementara Jacob Tremblay, adalah bocah yang menarik perhatian industri film melalui perannya dalam Room. Ia berhasil merebut sejumlah penghargaan internasional karena peran itu, seperti Screen Actors Guild Award for Outstanding Performance by a Male Actor in a Supporting Role. Kualitas tiga aktor utama ini memang tak perlu dipertanyakan lagi. Basis penggemarnya juga banyak. Jadi, boleh saja percaya diri. Lalu, cerita apa sebenarnya yang diangkat Wonder? Baca juga: Impostor Syndrome, Gejala si Cerdas yang Tak Merasa Cukup Roberts, Wilson, dan Tremblay adalah nama-nama besar dari genre drama keluarga. Kolaborasi ketiganya, seperti bisa ditebak, akan terlibat di area sana. Roberts sebagai Ibu, Wilson suaminya, dan Tremblay jadi sang anak: Auggie Pullman, bocah 10 tahun yang keranjingan pakai helm astronot karena tidak percaya diri dengan wajahnya. Konflik utama film ini memang ada pada Auggie—ia seorang yang terlahir dengan kelainan bentuk wajah. Dalam kasus Auggie, nama medisnya Treacher Collin Syndrome. Sejak kecil, Auggie harus menjalani banyak sekali operasi agar organ-organ di wajahnya berfungsi: mata bisa melihat, kuping bisa mendengar, dan punya saluran pernapasan yang baik. Lagi, sebagaimana bisa ditebak, Wonder memang dipersiapkan jadi penguras air mata. Seluruh elemen film dibangun untuk membuat penonton bersimpati. Namun, ketimbang mengorek-ngorek sisi sedih dari konflik keluarga Pullman, sang sutradara Stephen Chbosky, justru menumpuk unsur komedi di sepanjang film. Cerita tentang tumpukan operasi yang bisa jadi senjata utama bikin mewek itu justru cuma terselip, kalau tidak salah salah, hanya tiga kali, itu pun hanya lewat sebaris-dua baris dialog Auggie. Tak ada adegan mengerikan yang melibatkan pisau operasi atau tangisan lebay Julia Roberts yang melibatkan ingus dan sesunggukan parah.

Sejak dibuka saja, Auggie langsung menampakan kelainan bentuk wajahnya sebagai sebuah punch line dalam kisah hidupnya yang ia anggap sebuah komedi. Unsur humor lainnya tentu saja datang dari Owen Wilson. Nyaris tak ada yang tak lucu dari semua dialog Wilson sepanjang film diputar, termasuk dialog-dialognya dengan Auggie, yang di saat bersamaan juga hadir sebagai nasihat pamungkas. Namun, sebagaimana film-film Hollywood serupa yang mengangkat suatu kelainan tertentu—misalnya autisme, down syndrome, alzheirmer—Wonder juga punya peluang besar terjebak dalam upaya mengglorifikasi karakter utama mereka. Maksudnya, tak sedikit film drama yang mengangkat tema serupa justru menjadikan kelainan-kelainan itu sebagai “kekuatan super” tokoh utamanya untuk punya hidup lebih baik. Misalnya karakter autisme dari film The Accountant yang diperankan Ben Affleck. Baca juga: Memahami Autisme Lewat Film Namun, Chbosky nyaris bisa mengatasi masalah ini. Auggie memang tampil terlalu baik dan sangat amat pintar, terlalu sempurna untuk sosok bocah 10 tahun—baik yang punya Treacher Collin Syndrome atau yang tidak. Namun, ia juga tampil dengan segala kerentanannya: Auggie benci kalau orang lain membandingkan penderitaannya dengan penderitaan mereka, tapi di saat bersamaan, ia sadar kalau dunia ini tak selamanya tentang dirinya yang bersedih karena kondisi wajahnya. Sebab orang lain juga punya masalahnya masing-masing, dan sangat tidak bijaksana untuk membanding-bandingkannya. Pesan itu jadi lebih mudah dipahami karena struktur multi-narasi yang disuguhkan novel originalnya berjudul sama karya R.J. Palacio. Film ini tak melulu ditampilkan dengan suara Auggie sebagai narator. Beberapa tokoh lain juga punya kesempatan menyuarakan perspektifnya. Cara ini ampuh membangun cerita yang lebih dalam—sehingga Chbosky tak perlu menumpuk adegan bersedih-sedih, fokus pada humor-humor saja, tapi tetap berhasil menyajikan sebuah film penguras air mata. Di luar itu, film ini juga melempar perspektif penting tentang memperlakukan orang yang lahir berbeda. Chbosky justru tak membangun harapan palsu bagi mereka: orang seperti Auggie memang mustahil hidup tanpa olokan, diskriminasi, bahkan sumpah-serapah yang menyarankan mereka bunuh diri. Pemicu-pemicu depresi itu mustahil dielakkan. Sebab berharap Bumi ini sekonyong-konyong damai adalah nyaris utopis. Namun, bukan berarti hidup bahagia adalah sebuah kemustahilan bagi mereka yang berbeda. Ia memang senang pakai helm astronot, karena tak mau melihat orang lain kaget karena melihat mukanya. Ia sadar kalau dengan penampilan yang beda, Chewbacca—salah satu karakter mirip primata dalam Star Wars—tetap keren dan jadi idola dari Star Wars. Pada film Wonder, simbol helm astronot jadi keseimbangan yang ditampilkan Auggie. Membuat film ini juga mampu menyeimbangkan antara keadaan menguras air mata dengan tawa.

(REVIEW) Cars 3: Kontribusi McQueen buat Generasi Muda

Penggemar film Disney pasti tahu, dong, film Cars? Yap, karakter mobil lucu yang udah ngehibur penggemar selama 10 tahun ini kembali hadir di layar lebar. Cerita Cars yang mengisahkan kejuaraan balap legendaris, Piston Cup, yang telah menyentuh hati para penonton.

Sebelumnya, McQueen dan kawan-kawan bercerita sebagai mata-mata dan kejahatan di dunia otomotif. Memang, sih, ini agak konyol karena justru porsinya lebih banyak mengenai petualangan, bukan arena balap. Biar bagaimanapun, film ini menghasilkan pendapatan sebesar 562 juta dolar atau sebesar Rp7 triliun.

Tampaknya, Brian Fee nampilin kisah yang berbeda dari sebelumnya. Kisah kali ini lebih menyentuh dari sekadar kejuaraan Piston Cup dalam film-film sebelumnya. Film ketiga McQueen kali ini bercerita tentang perjalanannya yang terancam oleh kehadiran pembalap generasi baru.

Kalau lo lihat cuplikan filmnya dan baca sinopsisnya, mungkin lo bakal berpikir inilah waktunya McQueen pensiun. Namun, nyatanya, enggak juga. McQueen masih siap menggeber mesinnya lebih keras. Sayangnya, dia mengalami kecelakaan parah dan membuatnya merefleksikan diri. Hal ini merupakan langkah mobil bernomor 95 ini buat tetap berjaya di arena balap yang akhirnya mempertemukan dia dengan pelatih Cruz Ramirez.

Sebagai pelatih di Pusat Pelatihan Rust-eze, Ramirez yang paham teknologi mobil balap berusaha buat membantu McQueen kembali jadi juara dengan menyediakan beragam teknologi yang bikin dia bisa bersaing. Sayangnya, ketika hampir ngerebut kursi juara, McQueen dikalahin di saat-saat terakhir oleh mobil mewah, canggih, dan merupakan generasi terbaru bernama Jackson Storm (Armie Hammer).

Selain itu, McQueen mendapat satu kesempatan terakhir dari sponsor barunya, yaitu konglomerat bernama Sterling (Nathan Fillion). Sterling adalah penggemar berat McQueen. Dia juga seorang pebisnis. McQueen dihadapkan pada satu kenyataan bahwa dirinya bakal pensiun dan hanya jadi model beberapa produk. Mereka membuat kesepakatan: jika kalah, McQueen harus pensiun dan siap jadi duta endorsement dari produk mobil milik Sterling.

McQueen menegaskan bahwa dirinya ingin pensiun dengan keputusannya sendiri, bukan diberhentikan karena dianggap udah tua. Dia pun membanding-bandingkan hal ini dengan nasib Doc yang dipensiunkan setelah mengalami kecelakaan hebat.

Hal ini jadi refleksi McQueen. Dia ngerasain apa yang pembalap-pembalap lain yang satu generasi dengannya. Satu per satu ‘veteran’ pembalap yang merupakan teman-teman seangkatan McQueen mulai pensiun dan dipecat dari Piston Cup. Mereka dianggap terlalu tua buat balapan.

Kini, giliran McQueen yang selalu diejek karena dia merupakan produk lama yang sudah ketinggalan zaman. Pembalap di generasi Storm bisa berlari di kecepatan 333 km/jam tanpa kesulitan. Sedangkan, McQueen hanyalah mantan jawara bermesin tua.

Di tengah latihan yang panjang antara Cruz dan McQueen, sempat terjadi selisih paham yang bikin Cruz sebagai pelatih marah besar. Perdebatan antara sang pembalap dan pelatih ini enggak berlangsung lama. Mereka kembali mengatur strategi guna mencapai kejuaraan yang akan diselenggarakan di Florida.

Banyak kejutan yang bikin lo bakal ketawa dan geleng-geleng kepala lewat animasi yang ditampilin. Imajinasi sang illustrator dan penulis naskah benar-benar berhasil ngegambarin kehidupan mobil layaknya kehidupan manusia. Bahkan, lo bisa ngebayangin, bagaimana para karakter mobil di Cars 3 ini jadi manusia. Walaupun ceritanya bukan kehidupan anak-anak, animasi yang lucu dan imajinatif masih menarik buat anak-anak.

Menurut Viki, Cars merupakan film yang ringan tapi berisi, dan enggak membatasi siapa aja yang boleh nonton. Durasi yang singkat, plot yang sederhana, dan pengemasan yang tetap kece bikin film ini enggak ditinggalin penggemarnya dan bisa dinikmatin semua kalangan. Film yang asyik ini tetap bikin para penonton fokus dan menikmati.

Walaupun dalam karakter mobil, lo bisa mendengarkan suara khas McQueen yang diisi suara oleh Owen Wilson. Lalu, Cristela Alonzo sebagai Cruz Ramirez yang populer dalam film The Angry Bird Movie. Ada juga Armie Hammer sebagai pengisi suara Jackson Storm. Dan, pastinya, suara Matter yang ikonis dan ceria diisi oleh komedian Amerika Larry the Cable Guy.

Lo tenang aja. Semua karakter mobil dalam Cars 3 ini tetap ada, kok, walaupun porsi ceritanya enggak merata. Bisa jadi, sang sutradara, Brian Fee, ingin mengulas beberapa karakter lain yang sebelumnya belum pernah diceritakan.

Menariknya, penulis naskah Kiel Murray membuat alur cerita dan pesan moral di Cars 3 ini relevan buat orang dewasa. Walaupun klimaksnya enggak emosional banget, tetap memuaskan, kok.

Film ini menggambarkan bagaimana kita mencari arti hidup seiring bertambahnya usia, mencari jalan buat jadi seorang yang berguna di setiap fase hidup kita, dan yang terpenting, memikirkan bagaimana cara berkontribusi buat generasi muda.

Dari film-film sebelumnya, Cars 3 seakan enggak kehilangan selera humor. Ditambah, ceritanya penuh dengan makna kehidupan sang juara. Bisa dibilang, film ini ngajarin kita semua bahwa harta dan tahta itu enggak selamanya bakal terus melingkupi kita. Enggak peduli berapa pun usia kita, kita tetap bisa ngeraih mimpi dan berkontribusi di bidang yang kita cintai.

Udah enggak sabar nonton keseruan kisah McQueen yang berbeda dari dua film sebelumnya? Cars 3 diputar di bioskop seluruh Indonesia mulai 16 Agustus 2017. Sebelum angkat kaki ke bioskop, tonton dulu cuplikan filmnya!

Kisah di Balik Film Laskar Pelangi

Film Laskar Pelangi karya sutradara Riri Riza tidak hanya membekas di hati penonton seperti yang banyak diungkapkan, namun juga menorehkan kenangan di hati para pembuat film dan pemainnya. Bintang film, Ikranagara yang berperan sebagai Harfan, tokoh Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Gantong, mengaku memiliki kesan tersendiri bermain dalam film yang diadaptasi dari novel laris karya Andrea Hirata ini. “Terus terang film ini sangat berkesan bagi saya. Dalam film Laskar Pelangi saya harus menyesuaikan diri dengan keadaan di Belitung, berbicara bahasa daerah itu, dan bahkan membeli kamus Bahasa Belitung,” kata aktor kawakan yang juga sutradara film ini. Ikra yang telah sembilan tahun terakhir tinggal di Washington DC ini mengaku sebenarnya ingin berhenti dari keterlibatan di film. “Saya sebenarnya sudah tidak ingin kembali ke film, sudah tua. Ada generasi-generasi muda yang lebih baik,” ujarnya. Dengan pandangan menerawang Ikra memutar kembali ingatannya ketika suatu hari mendapat tawaran untuk bermain dalam film Laskar Pelangi. “Suatu hari Riri menghubungi saya dan mengajak saya main film yang diangkat dari novel laris ’Laskar Pelangi’, tapi karena saya tidak tahu banyak soal perkembangan sastra Indonesia beberapa tahun terakhir, saya mencoba mencari tahu tentang pengarang dan novelnya,” ujar Ikra. Seperti halnya Ikra, film Laskar Pelangi juga membawa kesan mendalam di hati Cut Mini, pemeran Ibu Guru Muslimah yang mengajar di SD Muhammadiyah Gantong. Ia mengaku sangat antusias menyambut tawaran bermain dalam film ini karena sudah lama memimpikan bisa bermain dalam film dengan sutradara Riri Riza. “Meskipun jadwal latihannya terhitung singkat, sekitar tiga minggu, saya berkali-kali latihan sendiri, belajar logat dialog Belitung dengan cara memanggil guru yang mau membacakan dialog Belitung. Suaranya saya rekam dan setiap hari saya dengarkan untuk latihan,” ujar perempuan kelahiran 30 Desember 1973 ini. Ia melanjutkan, kenangan tak terlupakan dalam film ini adalah ketika melakukan adegan paling sulit, yakni beradu akting dengan Bakri (Rifnu Wikana), guru SD Muhammadiyah yang memutuskan berhenti mengajar. “Waktu itu emosi saya terlalu tinggi, sulit menahan diri untuk tidak menangis, dan akhirnya saya menyerah. Rasanya bodoh sekali, sekaligus kasihan pada Mas Riri Riza dan para kru yang sudah susah payah menata set di tengah teriknya matahari Belitung,” katanya. Penuh Tantangan Produser film Laskar Pelangi, Mira Lesmana dan sang sutradara, Riri Riza mengakui tidak mudah memindahkan cerita dari 529 halaman novel ke medium layar lebar atau film. Alasan itu pula yang akhirnya memuat kedua sineas muda Indonesia ini terus-menerus melakukan perbaikan pada skenario hingga akhirnya naskah draft ke-11 diserahkan ke Andrea Hirata. Mira mengungkapkan proses bedah naskah itu memerlukan waktu hampir satu tahun lamanya. Penulisan naskah dilakukan Salman Aristo yang sebelumnya menulis naskah film adaptasi novel islami berjudul Ayat-ayat Cinta dan film remaja Jomblo. Salman mengungkapkan tantangan terbesar dalam penggarapan naskah novel Laskar Pelangi adalah struktur cerita yang melompat-lompat, sedangkan ia bekerja dengan batasan durasi film. Tantangan berikutnya, menurut Mira, adalah menemukan anak-anak yang akan berperan sebagai anggota Laskar Pelangi. Proses pemilihan pemain dimulai Desember 2007 dan selesai pada Maret 2008. Melalui Ismoyo, pembuat film lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang berasal dari Belitung, maka proses pemilihan pemain mulai dilakukan di sekolah, pasar, dan tempat keramaian dengan fokus di daerah Tanjung Pandang, Manggar dan Gantong. “Proses pemilihan pemain ini dilakukan tanpa ada pengumuman sebelumnya, Ismoyo yang berkeliling mencari anak-anak itu dan melatih mereka untuk berdialog dan membaca naskah,” ujar Mira. Ia melanjutkan, ada banyak kenangan manis bersama anak-anak Belitung tersebut selama proses syuting. Ada anak-anak yang datang naik sepeda, bahkan ada yang masuk ruang casting dengan baju basah karena keringat habis main bola. “Rasa ingin tahu mereka sangat besar walau mungkin karena tidak satu pun dari mereka pernah masuk bioskop, sama sekali tak tersirat adanya keinginan menjadi bintang film,” ujar Mira menjelaskan. Riri Riza menambahkan masing-masing anak tersebut memiliki bakat tersendiri dan masing-masing mempunyai latar belakang yang serupa dengan tokoh yang diperankan, yakni mengalami pahit manisnya hidup sebagai masyarakat Belitung. Ia mencontohkan Verrys (pemeran Mahar) dan Rama (pemeran Trappani) yang datang dari keluarga sangat sederhana. Sementara Yogi sebagai Kucai yang masih kecil itu sudah bekerja sambilan sebagai tukang parkir. “Kalau Jeffry yang berperan sebagai Harun, dia adalah anak berkebutuhan khusus yang kami temukan di sebuah sekolah luar biasa di Tanjung Pandan,” ujar Riri. Film Laskar Pelangi lahir dari novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata yang difilmkan oleh sutradara Riri Riza (dengan judul sama, red) di bawah bendera Miles Films dan Mizan Production. Laskar Pelangi adalah kisah nyata tentang persahabatan sejumlah siswa SD Muhammadiyah Gantong di Belitung yakni Ikal (Zulfanny), Mahar (Verry S Yamarno), Lintang (Ferdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M Syukur Ramadan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri). Masing-masing anak yang memiliki keunikan dan keistimewaan ini berjuang untuk terus bisa sekolah, di tengah tantangan berat yang mereka hadapi. Seperti kisah pilu Lintang yang putus sekolah setelah ayahnya meninggal. Ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi bekerja menghidupi tiga adik perempuannya. Ikal yang hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan tetap bertekad sekolah dan meraih cita-cita kuliah di Perancis, dan semangat ibu guru Muslimah mendapatkan murid di tengah ancaman sekolah yang akan ditutup. Segala persoalan dan tantangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Ikal, Mahar, dan Lintang dengan bakat dan kecerdasan yang muncul sebagai pendorong semangat mereka. Film Laskar Pelangi merupakan sebuah adaptasi sinema yang mengambil waktu di akhir tahun 1970an. Film ini dipenuhi kisah masyarakat pinggiran, perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia, Belitung. Novel Laskar Pelangi ini adalah memoar Andrea Hirata. Ikal adalah sosok masa kecil Andrea yang dengan keterbatasan ekonomi keluarga dan ancaman putus sekolah, terus berusaha dan berdoa menggapai cita-citanya bersekolah ke Perancis. Harapan tersebut pada akhirnya dapat diraih Andrea yang benar-benar berhasil melanjutkan studi ke Perancis kemudian perjalanan hidupnya itu dituangkan dalam novel berjudul Laskar Pelangi.

Sekuel Novel Dilan “Dilanku 1991” Lebih Suram daripada Novel Pertamanya?

dilanku

Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1991 merupakan lanjutan dari novel bagian pertama karangan Pidi Baiq atau Surayah, yaitu Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1990.

Tak seperti buku pertamanya, Dilanku 1991 ini lebih fokus bercerita dari perspektif Milea, si gadis paling berpengaruh bagi kehidupan Dilan. Di sini, hubungannya dengan Dilan sudah naik level. Singkatnya, sudah berpacaran. Mereka sudah berhubungan selama setahun setelah berikrar di sebuah kertas yang dibubuhi materai.

Akan tetapi, ada masalah dalam buku kedua ini. Kabarnya banyak perubahan yang membuat pembaca kecewa. Dilanku 1991 ini dianggap tidak senostalgia seperti Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1990. Benarkah demikian?

Film Bohemian Rhapsody: Perayaan gagal atas Freddy Mercury

Freddy Mercury adalah awal dan akhir Queen, dan rahasia Freddy cuma satu: gigi ekstra. Saat film belum berumur 15 menit, Freddy (Rami Malek, aktor terbaik Emmy untuk perannya di “Mr.Robot”) sudah memberi kata kunci, “Saya lahir dengan tambahan empat gigi seri,” ujarnya pada Roger Taylor (Ben Hardy) dan Brian May (Gwilym Lee). Sebuah musabab yang membuatnya konon bisa menyanyi dengan modulasi (teknik) yang menakjubkan, baik di langgam bariton (rendah) atau tenor (tinggi).

Queen sendiri belum lahir waktu mereka bertemu di belakang sebuah bar di pinggiran Inggris. Freddy belum mashur dan masih belajar musik di Ealing College of Art, London. Roger dan Brian pun baru bermusik di sebuah band bernama “Smile”, yang sekadar manggung dari bar ke bar. Pertemuan mereka dengan Freddy malam itu terjadi usai keduanya bernyanyi di depan kalangan anak-anak muda.

Kebetulan Smile baru saja ditinggal vokalisnya, Tim Staffell. Freddy yang memang sudah lama mengagumi Smile, menawarkan diri jadi vokalis pengganti. Namun, melihat penampilan Freddy yang flamboyan dengan kuku tangan bercat hitam, dan gigi mancung, membuat mereka ragu. Mereka bahkan sempat mengolok-olok gigi Freddy. Baru setelah penggemar Jimi Hendrix dan Liza Minnelli ini mulai membuka mulut, bingo! keajaiban terjadi.

Singkat cerita, Brian dan May yang sudah kesengsem dengan suara Freddy membentuk band baru bernama Queen. Kemampuan bermusik dan kreativitas pemilik nama asli Farrokh Bulsara itu, membuat Queen segera mencuri tempat di hati para pendengar. Dengan segera lagu-lagu mereka merambat ke udara lewat radio-radio. Album dan tur pun bertubi-tubi membuat mereka sibuk. Akhirnya, band yang lahir di belakang bar itu dikenal oleh massa di seluruh dunia.